Katamama.id – Pernah merasa bahwa hubungan yang awalnya begitu indah perlahan berubah karena salah satu pihak mulai menganggap pasangannya sebagai sesuatu yang pasti selalu ada? Dalam kehidupan rumah tangga, situasi seperti ini mungkin lebih sering terjadi daripada yang kita bayangkan.
Kesibukan pekerjaan, mengurus anak, hingga rutinitas sehari-hari terkadang membuat pasangan lupa bahwa hubungan perlu terus dirawat. Bukan hanya dengan kata-kata cinta, melainkan juga melalui perhatian, komunikasi, dan sikap saling menghargai.
Hal menarik tentang hubungan tersebut bisa Mama temukan dalam drama Korea (drakor) The Remarried Empress. Drama yang dibintangi Shin Min Ah, Ju Ji Hoon, Lee Jong Suk, dan Lee Se Young ini memang mengusung kisah fantasi kerajaan. Namun, di balik kemewahan istana dan intrik politik, ada persoalan rumah tangga yang cukup dekat dengan kehidupan nyata.
Kisah Navier (Shin Min Ah) dan Kaisar Sovieshu (Ju Ji Hoon) memperlihatkan bagaimana sebuah hubungan yang dibangun sejak lama bisa mengalami keretakan ketika rasa hormat dan komitmen mulai kehilangan tempatnya.
Lantas, apa saja pelajaran tentang pernikahan yang bisa dipetik dari drakor ini?
1. Cinta Tidak Bisa Menjadi Alasan untuk Mengabaikan Perasaan Pasangan
Navier dan Sovieshu merupakan pasangan yang telah mengenal satu sama lain sejak kecil. Mereka tumbuh bersama dan kemudian menjalani kehidupan sebagai kaisar dan permaisuri Kekaisaran Timur.
Dari luar, keduanya tampak seperti pasangan ideal. Mereka memiliki kedudukan, kekuasaan, dan kehidupan yang mungkin diimpikan banyak orang. Namun, hubungan mereka mulai berubah ketika Sovieshu jatuh cinta kepada Rashta (Lee Se Young), seorang budak pelarian yang kemudian dibawanya ke istana.
Sovieshu mulai memberikan perhatian lebih kepada Rashta. Kehadiran perempuan tersebut perlahan memengaruhi hubungannya dengan Navier, bahkan membuat sang kaisar berniat menceraikan permaisurinya.
Dari konflik ini, Mama bisa melihat bahwa lamanya sebuah hubungan tidak otomatis menjamin seseorang akan terus merasa dihargai.
Dalam kehidupan rumah tangga, pasangan yang sudah bertahun-tahun bersama tetap membutuhkan perhatian. Jangan sampai karena sudah merasa mengenal satu sama lain, kita justru berhenti berusaha memahami perasaan pasangan.
Cinta bukan hanya tentang bagaimana hubungan dimulai, melainkan juga bagaimana kedua orang di dalamnya terus memilih untuk saling menjaga.
2. Kesetiaan Bukan Hanya Soal Tidak Berselingkuh
Persoalan Sovieshu dan Navier juga mengingatkan bahwa kesetiaan dalam pernikahan memiliki makna yang lebih luas. Kesetiaan memang berkaitan dengan komitmen untuk tidak mengkhianati pasangan. Namun, ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu menjaga kepercayaan dan tidak menempatkan pasangan dalam situasi yang membuatnya terus merasa tidak aman.
Misalnya, ketika salah satu pasangan mulai menjalin kedekatan dengan orang lain, penting untuk memahami batasan dalam hubungan. Bukan berarti suami atau istri tidak boleh berteman dengan lawan jenis, tetapi setiap orang perlu memahami tanggung jawabnya terhadap komitmen pernikahan.
Dalam cerita The Remarried Empress, Sovieshu seolah lebih sibuk mengikuti perasaannya sendiri tanpa mempertimbangkan dampak keputusannya terhadap Navier. Padahal, pernikahan bukan hubungan yang hanya melibatkan keinginan satu orang.
Mama dan pasangan tentu memiliki kebutuhan, perasaan, serta sudut pandang yang berbeda. Karena itu, menjaga kesetiaan juga berarti bersedia mempertimbangkan perasaan satu sama lain sebelum mengambil keputusan.
3. Jangan Menganggap Pasangan Akan Selalu Bertahan
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Navier adalah bagaimana ia menghadapi keputusan Sovieshu untuk menceraikannya. Selama ini, Navier telah menjalankan perannya sebagai permaisuri dengan baik. Ia mendampingi suaminya, menjalankan tanggung jawab kerajaan, dan menjaga kedudukannya.
Namun, ketika Sovieshu justru memilih Rashta, Navier tidak terus-menerus memohon agar suaminya mengubah keputusan. Ia menyetujui perceraian dengan syarat dirinya diperbolehkan menikah kembali dengan pangeran Heinrey (Lee Jong Suk), putra mahkota Kerajaan Barat.
Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam kehidupan Navier. Dari sini, ada satu hal yang bisa direnungkan dalam kehidupan rumah tangga: jangan menganggap pasangan akan selalu bertahan dalam situasi apa pun.
Terkadang, seseorang terlalu nyaman dengan kehadiran pasangannya hingga lupa untuk memberikan penghargaan. Ia merasa pasangannya akan selalu memaklumi, selalu memaafkan, dan selalu bersedia bertahan.
Padahal, hubungan yang sehat tidak seharusnya dibangun dengan asumsi bahwa salah satu pihak akan terus mengalah. Menjaga pernikahan membutuhkan usaha dari dua orang. Bukan hanya satu pihak yang terus memahami, sementara pihak lainnya merasa tidak perlu berubah.
4. Komunikasi Lebih Penting daripada Membiarkan Masalah Menumpuk
Konflik Navier dan Sovieshu juga memperlihatkan betapa rumitnya hubungan ketika kepentingan pribadi, ego, dan persoalan komunikasi bercampur menjadi satu. Dalam kehidupan nyata, persoalan rumah tangga tidak selalu sebesar pengkhianatan atau perceraian. Terkadang, masalah justru berawal dari hal-hal sederhana yang dibiarkan berulang.
Misalnya, pasangan yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kurang memberikan perhatian, atau tidak terbuka ketika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Jika terus dibiarkan, persoalan kecil dapat berkembang menjadi jarak emosional. Karena itu, komunikasi menjadi salah satu hal penting yang perlu dijaga dalam pernikahan.
Mama tidak harus menunggu sampai terjadi pertengkaran besar untuk membicarakan sesuatu yang mengganjal. Begitu pula dengan pasangan. Keduanya perlu memiliki ruang untuk menyampaikan perasaan tanpa takut langsung disalahkan.
Mendengarkan juga sama pentingnya dengan berbicara. Sebab, terkadang pasangan tidak selalu membutuhkan solusi. Ia hanya ingin didengar dan dipahami.
5. Menghargai Pasangan Perlu Dilakukan Setiap Hari
Kita sering menganggap bahwa perhatian dalam pernikahan harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Padahal, rasa menghargai justru bisa terlihat dari kebiasaan sederhana.
Mengucapkan terima kasih, menanyakan kabar, membantu pekerjaan rumah, menemani anak, atau memberikan waktu untuk mendengarkan cerita pasangan merupakan bentuk perhatian yang berarti.
Dalam pernikahan, hal-hal kecil tersebut dapat membuat seseorang merasa keberadaannya diperhatikan. Mama dan pasangan juga tidak perlu menunggu momen ulang tahun pernikahan atau hari istimewa untuk menunjukkan kasih sayang. Justru, perhatian yang diberikan dalam rutinitas sehari-hari dapat menjadi salah satu cara menjaga kedekatan emosional.
Kisah Navier dan Sovieshu menjadi pengingat bahwa hubungan tidak cukup hanya dibangun berdasarkan sejarah panjang bersama. Hubungan juga membutuhkan usaha untuk terus saling menghargai.
Pernikahan Bukan Tentang Siapa yang Paling Banyak Berkorban
The Remarried Empress memang merupakan drama fantasi dengan latar kehidupan kerajaan. Namun, konflik yang dialami para tokohnya memberikan ruang bagi penonton untuk merenungkan berbagai persoalan hubungan.
Dari Navier dan Sovieshu, kita bisa melihat bahwa pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta. Ada kepercayaan, kesetiaan, komunikasi, dan rasa hormat yang harus dijaga bersama.
Menjadi pasangan bukan berarti harus selalu memiliki pendapat yang sama. Perbedaan tetap bisa hadir, tetapi keduanya perlu belajar menghargai satu sama lain.
Begitu pula dengan Mama. Menjalani peran sebagai istri dan ibu bukan berarti harus menjadi satu-satunya orang yang terus berusaha menjaga keutuhan keluarga. Suami dan istri sama-sama memiliki tanggung jawab untuk merawat hubungan.
Sebab, pernikahan yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban atau siapa yang paling sering mengalah. Pernikahan adalah tentang dua orang yang sama-sama mau belajar, bertumbuh, dan menjaga satu sama lain.
Dan mungkin, itulah salah satu pelajaran paling berharga yang bisa kita renungkan setelah menyaksikan kisah Navier dalam The Remarried Empress.***


